Demikian Tuhan Mendandani Rumput
Prolog
Aku adalah anak terakhir dari dua bersaudara. Menjadi anak terakhir bukanlah suatu yang indah seperti kebanyakan orang pikir. Mulai dari bersaing dengan kakak kandungku sampai harus menutup aib keluarga sudah kujalani sepanjang 20 tahun ku hidup.
Mutiara Adzani Putri, nama yang indah bukan? Nama panggilanku adalah Tiara, saat ini aku sedang duduk di semester lima yang mana kebanyakan orang berpikir semester lima adalah semester kiamat bagi para mahasiswa. Tetapi pikiran tersebut tidak berarti bagiku, di semester ini justru aku sangat bersemangat mengikuti keseluruhan kegiatan kampus, mulai dari pembelajaran jarak jauh sampai dengan praktek industri di luar kota.
Aku tinggal dengan ayah tiriku dan ibu kandungku beserta kakak kandungku. Ya betul saja aku bukan berasal dari keluarga yang harmonis pada awalnya, namun setelah mamah bertemu papah di pernikahan ketiganya, hidupku bisa dibilang 180 derajat berubah.
Ayah tiriku bekerja bidang perpajakan, dan uniknya ia mempunyai kantor sendiri yang terletak di samping rumah yang sekarang ini kita tinggali. Banyak warga sekitar memanggil papah dengan “Om Exo”, sampai saat ini aku masih tidak tahu mengapa nama panggilan papah “Exo.” Ibuku adalah ibu rumah tangga yang ciamik dalam mengelola keuangan, kakak ku adalah seorang guru
Pada semester lima di tengah pandemik ini, aku bisa menjalani kegiatan studi lapangan di luar kota di tengah perbatasan sosial yang berlaku. Kegiatan yang bernamakan “Observasi Lapangan Perencanaan Pengelolaan Destinasi Pariwisata” tersebut dipimpin langsung olehku. Sebagai Ketua Pelaksana, aku membawahi 140 orang untuk pergi ke Malang dan Jogja dalam tenggat waktu 7-12 Juni 2021. Dalam kegiatan tersebut terdapat juga dosen pendamping yang bertanggung jawab atas aktivitas kami.
Bulan itu berita lonjakan kasus Covid-19 sedang merenda, maka dari itu kami semua diperbolehkan pergi dengan syarat harus menjalani protokol kesehatan yang ketat. Sebelum pergi dan pulang pun kami semua melakukan Swab test dan hasilnya pun negatif. Selama berada di luar kota enam hari, tidak satupun diantara kami ada yang merasakan gejala virus mematikan ini. Semua terlihat sehat, aman, serta bahagia.
17 Juli 2021, papah meninggal dikarenakan Covid-19 yang menyerang tubuhnya. Kepergiannya begitu menyakitkan lantaran ia adalah sosok yang membimbingku, baik perihal kehidupan sehari-hari maupun materi kuliah. Hal yang membuatku semakin terpukul ialah aku dengan egoisnya membawa virus tersebut masuk ke dalam rumah, yang kemudian menyerang seluruh keluargaku.
7 hari kepulangan dan positif
Pada saat kembali ke Depok, aku dijemput papah dan mamah di kampus tercintaku, pada saat itu kami bertiga tidak langsung pulang, tetapi harus ke mall di sekitar kota Depok untuk bertemu klien papah.
Hari-hari pun berlalu dan aku masih harus mengurus banyak hal mengenai laporan kegiatan tersebut. Badanku remuk tak karuan, tulangku seperti ditusuk-tusuk, penciumanku bahkan hilang secara tiba-tiba, nafsu makanku juga hilang, bawang yang seharusnya menjadi obat andalanku malah berbau busuk dan menjijikan untuk dimakan. Faktanya memang aku sangat menyukai bawang mentah. Namun berita mengangetkan datang dari kakak ku.
“Dek, aku positif,” muncul notifikasi dari gawaiku.
“Hah? Kok bisa? Kamu ga ada gejala apa apa bukannya?” balasku
“Sepertinya ini karena aku udah vaksin jadi tidak muncul gejala”, balasnya
“Kasih tau orang rumah ga ya dek?” tambahnya.
“Ga usah kak, orang rumah panikan semua.” Jawabku
Hari itu badanku semakin tidak karuan rasanya, semua penyakit yang kuderita kala itu seperti gejala Covid yang sudah banyak beredar di Internet. Aku tidak bisa mencium bau apapun, bahkan bau bawang yang beberapa hari lalu masih kecium busuk di hidungku sudah tidak tercium lagi.
“Kamu kena Covid kali dek,” ujar mamah dan papah
“Di Swab aja deh besok biar pasti,” jawabku.
Hasil Swab antigen pun keluar, aku tidak terkejut sama sekali melihat diriku positif Covid-19, malahan dengan percaya dirinya aku langsung mengasingkan diri di rumah sewaan papahku.
Kakak yang sudah tahu dirinya positif pun akhirnya bilang ke mamah dan papah bahwa dirinya positif. Sejak itu kedua orang tuaku panik, dan akhirnya papah dan mamah juga ingin melakukan Swab test. Ya benar saja kami sekeluarga positif, sempat melakukan isolasi mandiri di rumah, tetapi pada akhirnya mamah dan papah harus dirawat di rumah sakit lantaran saturasi tubuh yang terus menurun. Puluhan rumah sakit sudah dihubungi, tetapi tidak satupun aku mendapat kamar kosong.
Kemudian setelah menghubungi beberapa koneksi terdekat, mamah dan papah akhirnya mendapatkan ruangan di Rumah Sakit Umum daerah Depok. Rumah Sakit tersebut milik teman papah, dan jujur saja aku tidak percaya dengan pelayanan mereka.
Banyak berita beredar yang menyebutkan bahwa Rumah Sakit tersebut memiliki pelayanan yang buruk. Bayangkan saja, perawat yang seharusnya mengurus papahku dengan seenaknya datang di pukul dua pagi. Sedangkan papahku adalah salah satu dari banyaknya pasien yang harus selalu diurus.
Papah memiliki sifat kekanak-kanakan ketika sakit, ia tidak akan pernah mau makan kecuali ada yang mendorongnya untuk makan dan sembuh. Berbeda dengan mamahku yang memiliki tekad kuat untuk sembuh, ia diperbolehkan pulang terlebih dahulu karena sudah dianggap mampu isolasi mandiri.
Papah dan Rumah Sakit
Aku berfikir untuk membawa papah ke rumah dan mengurusnya bersama, sudah ku bulatkan tekad untuk izin kuliah dan membiarkan tugasku yang terus menumpuk demi menemani papah saat sakit. Namun mamah menolak permintaan tulusku untuk merawat papah, menurutnya, papah akan sembuh di rumah sakit.
Hari-hari di mana papah masih dirawat, Indonesia dilanda krisis oksigen dan semua harga melambung tinggi secara terserempak. Namun harga bukan perkara penting untuk keluargaku saat itu, kami rela mengeluarkan berapapun untuk mendapatkan oksigen papah.
Hari itu, papah ingin pulang, tetapi tahu-tahu niat tersebut ditelan angin dan dia memaksa untuk tetap dirawat di Rumah Sakit. Aku sadar, ada yang disembunyikannya. Padahal jika papah pulang, kami sudah membeli perlengkapan APD untuk kami pakai saat merawatnya, kami pun juga sudah membeli tabung oksigen yang besar dan kecil, serta mempersiapkan mental untuk menerima setiap kondisi papah di rumah.
Selama papah dirawat di Rumah Sakit, aku selalu melakukan panggilan video dengannya. Papahku juga sering sekali memberiku kabar tentang tensi dan saturasi tubuhnya. Ya, sejujurnya aku yang memaksa papah untuk selalu memberiku kabar tentang kedua hal tersebut, pasalnya Rumah Sakit yang aneh ini memang benar-benar menjengkelkan tidak pernah memberi kabar keluargaku tentang kondisi papah.
Berbeda dengan kondisi mamah, tekadnya yang kuat membuatnya saturasi tubuhnya cepat normal, alhasil mamah sudah diperbolehkan pulang duluan. Walaupun tetap mamah masih harus melakukan isolasi mandiri. Sepulangnya mamah dirumah, mamah masih sempat keluar rumah untuk memberi ku makan ke rumah sewaan yang aku tempati. Ya rumah tersebut hanya berjarak lima langkah dari rumah asliku.
Berkalang Tanah
Sabtu, 17 Juli 2021, hari itu mamah terlihat gelisah dari pagi hari, tenaga medis yang merawat papah tidak juga mengirimkan kabar bagaimana perkembangan papah hari itu. Sekitar pukul 14.00, mamah teriak dengan kencangnya dari dalam kamar, dan menyuruhku untuk memanggil taxi. Kala itu aku masih belum tahu bahwa papah meninggal. Gawaiku terus memunculkan notifikasi grup keluarga yang ramai tiba-tiba.
Aku sudah tahu apa isi grup itu tanpa harus melihatnya, namun sisi sebelahku selalu menyingkirkan pikiran itu. Aku menolak dan terus menolak bagaimana sebuah fakta terjadi. Iya salahku, ini semua salahku.
Aku tidak pernah menerima bagaimana papah dimakamkan saat itu. Sangat tidak layak dan tidak mengikuti ajaran agamaku. Bagaimana bisa diriku menerima keadaan papah yang sudah terbujur kaku dan dikemasi plastik serta peti?
Aku juga tidak bisa berada di dekatnya saat ia dimasukan ke peristirahatan terakhirnya. Hanya petugas, petugas, dan petugas. Aku menangis dari kejauhan, aku begitu benci dengan Tanah Kusir saat itu, namun aku begitu cinta karena Tanah Kusir menerima kehadiran papahku untuk selamanya.
Antipati dalam Rumah
Cinta sejati mamah pergi karenaku, aku tahu, mamah benci kepadaku, ia bahkan tak bicara sedikitpun kepadaku. Sekalinya berbicara, ia memarahiku akan hal sepele yang seharusnya tak sebesar itu amarahnya. Fakta bahwa mamah hanya memarahiku, bukan kakakku, padahal kita berdua yang sedang beradu argumen membuatku semakin yakin kalau mamah membenciku.
Meskipun mamah seperti itu, aku selalu bersedia untuk menemaninya tidur di sebelahnya. Di samping itu, kakak yang masih memiliki hubungan baik dengannya tidak ingin tidur di kamar mamah dengan alasan gatal-gatal, padahal dia bisa tidur di bawah, karena yang terpenting untuk mamah, ia harus ditemani saat tidur.
Aku sudah memperingatinya untuk bergantian lantaran mamah membenciku dan tak mau mengeluarkan sepatah katapun meskipun akulah yang menemaninya hingga saat ini. Hingga akhirnya tiba di mana terjadi perang besar antara aku, kakak, dan mamah.
Kakak berkali-kali menyuruhku meminta maaf kepada mamah, sedangkan aku selalu meminta maaf dengan panjang lebar sampai bertekuk lutut, namun mamah tak pernah menjawabnya. Sebagai manusia, tentu aku bisa gila karena kekacauan ini.
Aku tahu, aku yang membuat masalah ini terjadi, namun Tuhan yang menggarisi usia umatnya, bukan?
Saat perang berlangsung, aku teriak-teriak seperti manusia kesetanan, nafasku menggebu-gebu, tubuhku panas karena amarahku memuncak. Mamah masih diam saja di kamar. Aku memaksa mamah bicara dan mengaku kalau ia membenciku, namun ia tetap membisu. Aku harus apa? Haruskah aku bunuh diri untuk menebus dosaku?
Aku meminta izin untuk keluar rumah dan tinggal dengan ayah kandungku, namun mereka berdua melarangku dengan alasan sifat kasar ayahku. Aku harus bagaimana? Mereka mereka melarangku pergi, namun aku juga seperti tidak diterima di rumah ini. Aku berniat memberikan mamah waktu dan jarak dariku dengan kepergianku saat itu. Dengan niatku yang ingin pergi dari rumah juga sepertinya baik untuk diriku sendiri melihat suasana rumah yang kacau balau membuat batinku tersayat.
Namun mereka tetap menghadangku. Aku sempat beradu fisik dengan kakakku yang tidak bijaksana itu. Ia begitu egois dengan kemauannya mengurus diri sendiri tanpa membantu aku dan mamah sembuh dari kepergian papah. Ia hanya memikirkan akhirat untuknya.
Mengetahui kakakku yang sempat ingin mengakhiri hidupnya lantaran perceraian mamah dan ayah membuatku sedih dan berempati kepadanya. Namun saat ini yang seharusnya bunuh diri adalah aku. Jika aku tak berpikir panjang, aku sudah mengakhiri hidupku dari beberapa hari setelah papah meninggal.
Semenjak perang besar tersebut, aku hanya tidur dengan keadaan duduk sambil melonjorkan kaki di kasur palembang yang ada di ruang tamu. Aku tidak makan dan minum. Aku seperti gelandangan yang hanya mencomot sisa makanan di meja makan. Bukan karena aku tidak dikasih makan, tapi aku memang tidak mau makan dan minum saat itu.
Kuliahku terbengkalai, aku membenci semuanya, aku benci jika ada seseorang yang menyentuhku. Kakakku sempat menarik tanganku untuk bangun dan makan, aku langsung marah. Meskipun mamah sudah mulai bicara dan menyuruhku makan, aku masih tetap tidak ingin memasukkan apapun kedalam mulutku. Aku hanya duduk dan tidur, aku benar-benar hanya melakukan itu. Berat badanku turun drastis dan aku mendadak kurus, mungkin kekurangan gizi juga.
Sisi Mamah + Pernikahan
Aku dan Exo memang memiliki kisah cinta yang luar biasa menakjubkan. Sebelum akhirnya bersatu, kami masing-masing memiliki kisah cinta yang berujung tandus. Kami sama-sama pernah menikah 2 kali sebelumnya.
Aku tidak pernah menyalahkan bagaimana Tuhan mempertemukan jodoh umatnya, namun mengapa saat itu aku begitu bodoh menolak ajakanmu dari awal? Aku yang selalu menunda kebahagiaan kami, bahkan sampai harus merasakan pahitnya dua kali pernikahan sebelumnya. Dan saat ini, aku menyesal, betul-betul menyesal mengapa tidak sejak pertama kami berjumpa dan langsung memutuskan hidup bersama?
Saat gelap gulita menabur kegelisahan di permukaan hati yang tandus, aku merasakan kesunyian perlahan mengendap mengambil segala emosi yang baru pecah tadi siang. Kupejamkan mataku untuk mengingat pelangi di bola matanya. Kepergiannya bukan hanya membawa jiwa dan raganya tapi seluruh jiwaku dibawa serta olehnya.
Kepergiannya begitu mencekam, membayangkan bagaimana perjuangan kami untuk bersatu, membayangkan cengkrama kami sebelum-sebelumnya, membayangkan kami hidup menua bersama saat anak-anak sudah memiliki keluarga kecil masing-masing.
“Iya sayang, nanti kalau anak-anak sudah besar pasti mereka berkeluarga. Kita bisa habiskan waktu kita berdua di apartemen atau di mana, kita berdua saja.” ucapnya saat itu.
Semenjak kepergiannya, aku sempat merasakan kemarahan kepada anakku, aku lupa diri kalau aku adalah seorang ibu dari dua anak wanita yang sudah dewasa. Luapan kesedihan yang bercampur amarah selalu menyelimuti diriku. Namun aku tidak bisa melulu marah akan apa yang sudah terjadi atas kehendak-Nya.
Aku harus percaya dengan kehendak Tuhan yang sudah pasti sempurna untuk umatnya. Selalu ada alasan mengapa ia mengambil ruh seorang umat. Aku juga harus sadar bahwa aku memiliki dua anak yang harus aku didik dan perjuangkan di sisa umurku ini.
Benang Raja Datang
Seperti pepatah bilang, selalu ada kebahagiaan setelah kehancuran. Setelah melewati masa suram dan terbengkalai itu, aku dan keluargaku mulai pulih. Kami berhasil menghadapi duka cita ini, walaupun dalam prosesnya ada yang harus dikorbankan, iya aku, mental ku cukup sakit jika mengenang kejadian itu.
Mamah berhasil membangkitkan kantor pajak papah lagi, walau kuliahku sempat terbengkalai, tapi dengan semangat dan tekad aku berhasil mendapatkan kesempatan pertukaran pelajar ke Daegu Catholic University (DCU) di Korea Selatan.
Bahkan keluarga dan mamahku sampai mempercayaiku untuk mengambil alih serta menjalankan kantor papahku. Walau demikian, jika aku memilih untuk melanjutkan kantor papah, aku harus belajar dari ulang lagi dikarenakan aku tidak ahli dalam perpajakan dan jurusan kuliahku pun sangat bertolak belakang dengan dunia pajak.
Pilihan yang cukup berat, jika harus mengambil alih kantor papah, namun aku tidak tergesa-gesa juga dalam menolak tawaran tersebut. Sejujurnya, aku masih ingin mengejar pendidikan S2 di luar negeri, walau mamah dan kakak belum tahu akan hal ini, semoga mereka bisa merestuiku.
~Selesai~
Versi Inggris: https://medium.com/@lystirahma/thus-god-dressed-the-grass-6eebaa2dd1b8
Comments
Post a Comment